
Oleh : Arfiani Babay, M.Pd
Naskah Best Practice yang disajikan saat Simposium Nasional
Kongres II Ikatan Guru Indonesia di Makassar 30 Januari 2016
Latar Belakang Pendidikan yang dilaksanakan dewasa ini harus mampu membentuk manusia Indonesia menjadi manusia yang kreatif, berdisiplin bermotivasi, mandiri dan tegar menghadapi tantangan. Pendidikan berkualitas yang diharapkan adalah pendidikan yang dapat menghasilkan manusia yang berkemampuan tinggi dalam belajar dan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Sejalan dengan harapan tersebut, guru sebagai pendidik harus mampu meningkatkan profesionalismenya, khususnya penyusunan program, penyajian program, penilaian proses dan hasil belajar. Guru hendaknya senantiasa mengembangkan kemampuan untuk mengelola kegiatan pembelajaran di kelas sehingga terjadi kualitas pembelajaran dan peningkatan hasil belajar. Disini masih banyak kendala menghadang guru-guru IPA dalam menjalankan teknik pembelajaran, baik penguasaan materi, model pembelajaran maupun media/alat pembelajaran yang tepat guna dalam menyajikan materi-materi pembelajaran IPA yang cukup kompleks. Fenomena yang terjadi di lapangan adalah beban belajar dalam menyelesaikan kompetensi-kompetensi dasar dari konsep sumber energi listrik ini semakin berat bagi peserta didik, sehingga pada akhirnya berpengaruh kepada hasil belajarnya. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik kelas IX G pada prates (ulangan harian I materi listrik statis), terlihat bahwa nilai hasil belajar IPA sangat rendah. Perolehan nilai rata-rata peserta didik kelas IX G adalah 67,54 dengan 16 orang peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM  yang berarti ada 45,72% peserta didik yang tidak tuntas atau  tidak mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan dalam Kriteria Ketuntasan Minimal untuk konsep sumber energi listrik di SMP Negeri 4 Sungguminasa. Sedangkan peserta didik yang tuntas hanya sebanyak 54,28% berdasarkan hasil belajar pada materi listrik statis. Disinilah pentingnya seorang guru memikirkan langkah yang bijaksana dan inovatif dalam menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan melalui model pembelajaran yang kreatif dan memancing minat peserta didik untuk belajar IPA sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar pada konsep sumber energi listrik. Guru sebagai pelaksana pendidikan yang sangat dekat dengan peserta didik harus mampu memikirkan dan menciptakan inovasi pembelajaran guna melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik sekaligus menjawab tantangan menjadi guru profesional, sebagaimana yang telah ditetapkan syarat guru profesional adalah mempunyai empat kompetensi yang harus dimiliki yaitu meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Kemampuan guru menciptakan suatu model ataupun teknik pembelajaran yang kontekstual guna peningkatan hasil belajar peserta didik termasuk dalam kategori potensi pedagogik yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dalam menciptakan inovasi tersebut, guru senantiasa memperhatikan kondisi peserta didik dan mampu mengaitkannya dengan dunia nyata peserta didik agar dalam penerapan model atau teknik pembelajaran tersebut senantiasa mendapat respon positif dari peserta didik. Dalam hal ini juga dituntut penggunaan media yang tepat guna mendukung keterlaksanaan proses pembelajaran untuk pencapaian kompetensi belajar yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Bertolak dari hal tersebut di atas peneliti mencoba menciptakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang memungkinkan bisa menarik minat belajar peserta didik, dalam hal ini yang berhubungan dengan lingkungan. Peneliti berusaha membuat suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menyentuh dunia nyata peserta didik dengan berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan sebelumnya. Pendekatan pembelajaran yang dianggap cocok oleh guru ini diberi nama kontekstual (jelajah lingkungan). Disini peserta didik diajak mencari bahan-bahan bekas (limbah) dari lingkungan belajarnya baik di rumah, di sekolah mapun tempat-tempat yang mudah dijangkau peserta didik. Tujuannya mengajak peserta didik untuk selalu peduli dan mencintai lingkungan dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan percobaan dalam proses pembelajaran. Disamping itu pendekatan pembelajaran ini dibantu oleh media pembelajaran yang diberi nama elite, yang diambil dari singkatan dua kata yaitu elektrolit tester. Alat ini digunakan untuk menguji larutan elektrolit sumber energi listrik. Dari penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul dalam Karya Tulis ini adalah, “Peningkatan Pemahaman Konsep pada Materi Sumber Energi Listrik melalui Pendekatan Kontekstual dengan Media Elite Kelas IXG SMP Negeri 4 Sungguminasaâ€. Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:- Bagaimana meningkatkan pemahamankonsep pada materi sumber energi listrik di kelas IX G SMP Negeri 4 Sungguminasa Kabupaten Gowa, melalui pendekatan Kontekstual dengan media Elite.
- Bagaimana peningkatan aktivitas belajar peserta didik selama pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan media elite.
|
Kinerja Guru |
Aktivitas Peserta Didik |
| Kegiatan Awal | |
| 1.       Guru mengadakan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik 2.       Guru menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai peserta didik. 3.       Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan sisiwa untuk mencapai tujuan. 4.       Guru memberikan rangsangan pada peserta didik agar resposip terhadap pelajaran. | 1.       Siwa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. 2.       Peserta didik menyimak penjelasan guru. |
| Kegiatan Inti | |
| 1.       Guru menjelaskan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan media elite. 2.       Guru membimbing peserta didik merancang alat peraga kemudian menggunakanya dalam pengujian larutan elektrolit. 3.       Guru mengamati aktivitas peserta didik sekaligus melakukan penilaian proses. 4.       Guru membimbing peserta didik menyusun laopran hasil kegiatan | 1.       Peserta didik menyimak penjelasan guru tentang pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan media elite. 2.       Peserta didik merancang alat peraga sesuai petunjuk guru. 3.       Peserta didik melakukan percobaan pengujian larutan elektrolit sesuai petunjuk dalam LKPD. 4.       Peserta didik menyusun laporan hasil kegiatan. |
| Kegiatan Akhir | |
| 1.       Guru membimbing peserta didik dalam menyimpulkan materi pelajaran. 2.       Guru mengadakan evaluasi | 1.       Peserta didik dengan bimbingan dari guru menyimpulkan materi. 2.       Peserta didik menjawab soal-soal evaluasi tes hasil belajar |
- Penerapan pendekatan kontekstual dengan media elite telah berhasil meningkatkan hasil belajar peserta didik dan memperbaiki kinerja guru. Dalam hal ini adanya perubahan positif yang dapat dilihat dari semua indikator pada perencanaan dan pelaksanaan kinerja guru serta pada aktivitas dan hasil belajar peserta didik menjadi meningkat.
- Dengan adanya peningkatan yang nyata pada proses pembelajaran IPA dengan penerapan pendekatan kontekstual dengan bantuan media elite, maka penulis merekomendasikan kepada rekan guru pada umumnya dan guru IPA khususnya untuk mencoba menerapkan pendekatan pembelajaran dan media ini dalam proses pembelajaran di kelas guna meningkatkan hasil belajar peserta didik.
- Kreativitas, semangat dan karya nyata dalam menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran hendaknya senantiasa kita pupuk dan jaga untuk meningkatkan profesionalisme kita sebagai guru yang berkualitas untuk menghasilkan anak didik yang berpotensi dan mampu bersaing di era global.
- Mengerti tentang keinginan, kondisi dan keadaan peserta didik kita adalah modal yang terbaik untuk membelajarkan mereka guna mencapai hasil yang maksimal.
- Penerapan pendekatan kontekstual dengan media elite sangat menarik dan memotivasi peserta didik dalam pembelajaran, serta mampu memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memahami konsep-konsep yang dipelajari.
- Pendekatan pembelajaran kontekstual mengajarkan peserta didik belajar dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas (limbah) dari lingkungan sebagai bahan percobaan dalam proses pembelajaran. Selain itu pendekatan ini mengajarkan pada peserta didik bahwa tidak semua bahan bekas itu menjadi sampah dan dapat merusak lingkungan. Tapi banyak limbah yang dapat dimanfaatkan sehingga kita turut melestarikan lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas menjadi bahan percobaan dalam pembelajaran.
- Penggunaan media elite dalam pembelajaran dapat dijadikan media untuk memaksimalkan pemenuhan kriteria guru kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga menjadikan dia sebagai guru yang dirindukan peserta didik.
- Pemberian reward meskipun sederhana hadiah yang diberikan tetapi mempunyai manfaat jumbo.