Oleh: Widadi, S.Pd., M.Pd. (PP IGI)
Sahabat guru Indonesia, saya akan memulai artikel ini dengan kisah sederhana yang dialami teman saya Mas Joko. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mas Joko selalu mendapatkan nilai akademik terbaik di sekolahnya. Mas  Joko  selalu mendapatkan nilai rapor tertinggi. Lulus kelas 6 SD, ia menjadi bintang sekolah. Hal ini terus terjadi hingga ia lulus SMP, dan SMA. Ketika kuliah di perguruan tinggi, indeks nilai komulatifnya (IPK) tak pernah kurang dari 3,8. Hal ini terjadi sejak semester pertama hingga semester terakhir. Maka  tak mengherankan jika ia lulus coumlaude dari perguruan tinggi tersebut. Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan  Mas Joko dalam sebuah seminar di kota Jogyakarta. Sungguh tak kusangka jika kini kehidupannya jauh dari apa yang saya bayangkan. Bahkan tatkala kami mengadakan reuni dua minggu kemudian, ia lebih senang menyendiri. Mas Joko tak mau bergabung dengan teman-teman yang lain. Padahal dulunya ia adalah bintang di sekolah. Tak ada satupun guru dan siswa yang tidak mengenalnya. Dari obrolan saya dengannya sambil ngopi di sudut ruangan, saya bisa memahami persaannya saat itu. Ternyata Mas Joko minder. Minder melihat teman-temannya yang tampak sukses di mata Mas Joko.Ia merasa bahwa dirinya telah gagal dalam meniti hidup di dunia ini. Nilai ijazahnya yang selalu berada di atas nilai teman-temannya ternyata tak berarti apa-apa. Sahabat guru yang budiman. Kisah Joko seakan mewakili puluhan, ratusan bahkan ribuan generasi bangsa ini. Betapa banyak dari teman kita, saudara kita yang dulunya bintang di sekolah, namun gagal meraih sukses. Kemudian kita bertanya. Di mana letak masalahnya? Setelah kita membaca teori kecerdasan Emosional (EQ) kita pun akhirnya bisa memahaminya. Ternyata nilai akademik yang tinggi tidak menjamin sukses hidup seseorang. Ironisnya inilah yang terjadi di negara kita, Indonesia. Sebagian besar sekolah berlomba mengejar nilai UN lupa membangun karakter. Sebagian besar sekolah membangga-banggakan nilai akademik, lupa membangun karakter. Sebagian besar sekolah mengoptimalkan otak kiri, lupa mengoptimalkan otak kanan. Otak kiri berkaitan dengan logika, matematika dan bahasa sementara otak kanan berkaitan dengan seni, kreativitas dan inovasi. Apakah ada bukti lainnya? Ini buktinya, setiap kali acara kenaikan kelas yang berhak mendapatkan penghargaan biasanya adalah peserta didik dengan nilai akademik tertinggi, minimal 10 besar. Sementara jumlah murid di kelas itu antara 30 sampai 40 anak. Jika paralel 3 kelas saja berarti ada sekitar 90-120 anak. Terdapat antara 80-110 anak terabaikan. Peserta didik kita terlena dan kita pun sebagai guru terlena. Hal ini terjadi terus berulang-ulang. Adilkah kita sebagai guru? Setiap pembagian rapor kita terlalu senang melihat angka-angka di atas KKM sementara itu mengabaikan prosesnya. Sebaliknya kita juga prihatin melihat nilai peserta didik yang masih berada di bawah KKM, juga melupakan prosesnya. Sebagai guru, kita pasti berupaya sebaik mungkin untuk membantu peserta didik yang nilainya berada di bawah KKM. Kegagalan seorang anak dalam belajar sesungguhnya adalah kegagalan kita juga dalam mengajar. Adalah Daniel Goleman yang berpendapat bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya mampu menyumbang 20% terhadap sukses hidup seseorang, selebihnya yang 80% terletak pada kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan dominasi kerja otak kiri sementara itu kecerdasan emosional (EQ) merupakan dominasi kerja otak kanan. Prestasi akademik adalah hasil kerja otak kiri sementara kejujuran, keuletan, tanggung jawab adalah wilayah kerja otak kanan. Sahabat guru Indonesia. Kita sungguh bersyukur. Allah telah mentakdirkan kita menjadi guru. Guru untuk anak kandung kita, maupun guru untuk peserta didik kita di sekolah. Sebagai guru kita pasti senang mempunyai anak kandung dan peserta didik yang pandai tetapi juga berkarakter mulia. Nah, jujur, ulet dan tanggung jawab adalah sebagian dan karakter mulia. Sahabat guru Indonesia. Telah kita ketahui bersama bahwa saat ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah giat mengembangkan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Kebijakan ini tepat mengingat semakin merosotnya moral sebagian warga bangsa seiring dengan perkembangan jaman yang semakin kompleks. Budaya dan karakter apa sajakah yang dimaksud? Setidaknya terdapat 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang telah dibuat dan dipersiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter tersebut adalah:1. religius, 2. jujur, 3.  toleransi, 4.  disiplin, 5. kerja Keras, 6.   kreatif, 7.  mandiri, 8.  demokratis, 9.  rasa ingin tahu, 10.  semangat kebangsaan, 11.  cinta tanah air, 12.  menghargai prestasi,  13. bersahabat, 14.  cinta damai, 15.  gemar membaca, 16.  peduli lingkungan, 17.  peduli sosial dan 18. tanggung jawab. Bagaimanakah strategi menggali dan memberdayakan karakter peserta didik? Saya melakukannya melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1.  menyanyi, 2. memperdengarkan cerita, 3. membuat cerita, 4. menggambar cerita, 5. membuat komik, 6. bermain peran Sebenarnya masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menggali dan memberdayakan karakter peserta didik. Dalam artikel ini saya akan fokus membahas enam strategi tersebut dalam satu kesatuan. Untuk memudahkan pemahaman pembaca dalam pembelajaran ini saya gunakan model project based learning. Strategi ini telah saya lakukan ketika mengajar bahasa Indonesia di SDN Cipete Selatan 01, Jakarta Selatan. Sebagai guru kita tentu telah mamahami bahwa pola pembelajaran di sekolah dasar terbagi menjadi tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.- Kegiatan Pendahuluan
- Kegiatan Inti
- Menentukan jenis projek
- Merancang langkah-langkah menyelesaikan projek
- Menyusun jadwal pelaksanaan projek
- Menyelesaikan projek dengan monitoring guru
- Menyusun laporan dan presentasi
- Mengevalusai proses dan hasil projek
- Kegiatan Penutup